Home Artikel Semua Bisa Terbeli dengan Uang?

Semua Bisa Terbeli dengan Uang?

0 343

Denger-denger cerita temen masalah karir dan bisnis emang asyik. Ada yang bekerja dari bawah kemudian sukses besar, ada yang tanpa kerja keras tapi dia beruntung dapet rezeki banyak. Ada juga yang sudah mati-matian tapi belum juga dapat impian-impiannya. Tapi itu yang namanya proses kan? Pengalaman yang sudah diserap pun harus segera diaplikasikan esok harinya.

Ada juga yang membuat ganjalan di hati, ketika banyak teman-teman yang berbondong-bondong mencari peruntungan agar mereka naik ke kelas ekonomi yang lebih tinggi namun salah jalan. Yah, kalau di bilang nyari duit itu susah ya memang susah. Maksudnya susah cari uang denganbener, jujur dan halal.

Banyak sekali temen-temen dan sahabat yang giat mencari uang tetapi ternyata tidak mengerti darimana alur sistemnya. Hanya mengerti kalau mau dapet duit, ya harus kerja menurut sistem yang udah di patok si boss atau perusahaan. Bukannya kita dianjurkan melihat epistemologi dari suatu hal sebelum mengambil kesimpulannya??

Ini yang namanya cari uang hanya untuk kepuasan sesaat saja, selepas itu gak mau tahu akarnya, asal dapet duit ane seneng… Hmmm… Susah ya, ideologi bisa kalah dari yang namanya uang. Kalau kita lihat tayangan dokumenter di salah satu stasiun TV yang membahas bakso tikus, pernahkah kita membayangkan untuk mencari warung bakso yang bener-bener dari daging sapi, Kawan? Daging tikus sama daging sapi gak jauh beda lho kalau dicampur jadi bakso. Coba aja tanya yang pernah ngerasain. Segurih-gurihnya, sesedap-sedapnya,, yang namanya tikus ya tikus lah…

Nah, balik lagi ke masalah cari uang..Yang aku denger.. banyak anak-anak sekolah, mahasiswa, dan santri yang terlibat di MONEY GAME bisnis. Bahkan yang lebih parah ada Kyai dari salah satu pesantren yang terlibat di bisnis money game itu. Sungguh miris melihat kenyataan itu. Entah emang gak ngerti atau gak pengen ngerti.. Bukannya kita lebih baik benar-benar mengerti sistemnya dulu sebelum masuk dan bergabung dengan komunitas bisnis itu. Hmm… sayang sungguh sayang. Hanya karena uang mereka menutup mata. Mereka rela mengorbankan ideologi dan harga diri..

Sungguh kecewa mendengar itu. Keinginan kuat untuk membangun ekonomi Indonesia tidak dibarengi dengan mental pendirian yang kuat pula

Bagikan ke Teman

NO COMMENTS

Leave a Reply